*seperti yang sudah diajarkan Ayahandaku H.M Rafi’ie Hamdie (alm) dalam bukunya, Perantaraan Seorang Hamba kepada Allah SWT
Fadhilatnya
1. Firman Allah :
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al Quran ini pada malam Qadar. Tahukah engkau, apakah malam Qadar itu? Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Turun Malaikat dan Jibril pada malam itu dengan izin Tuhan, supaya diaturnya segala urusan Selamatlah malam itu sehingga menyingsing fajar Subuh”.
2. Sabda Rasulullah SAW :
“Barangsiapa yang bangun beribadat pada malam qadar (lailatul qadar) karena Iman dan mengharapkan karunia, maka Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya pada masa-masa yang lalu”. (H.R. Bukhari, Muslim)
3. Sabda Rasulullah SAW :
“Dari Aisyah R.A. berkata : “Adalah Rasulullah SAW apabila telah memasuki sepuluh akhir bulan Ramadhan menyingsingkan kain sarungnya dan menghidupkan peribadatan pada malam harinya dan membangunkan keluarganya untuk beribadat”. (H. Riwayat Bukhari)
Tentang Waktu Lailatul Qadar
1. Malam Lailatul Qadar terdapat pada malam-malam ganjil pada 10 (sepuluh) akhir malam bulan Ramadhan, yakni malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, dan malam 29.
2. Sebagian Ulama berpendapat, karena tidak pasti tahunya akan ilmu Allah tentang awal bulan Ramadhan (ru’yah dan hisab) maka tidak ada salahnya bila dilakukan setiap malam mulai malam 21 sampai malam 30.
Penjelasan Tata Cara Beribadat
1. Tidak pernah ditemukan petunjuk tentang apa saja yang dilakukan Rasulullah SAW secara terperinci pada malam Lailatul Qadar itu, selain disebut (menyingsingkan sarungnya) untuk beribadat.
2. Sekurang-kurangnya peribadatan pada malam itu ialah melakukan Shalat Tarawih dan banyak-banyak membaca bacaan yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Siti Aisyah Radhiallahu Anha :
Allahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul afwa fa’fu aanni.
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Mulia, Engkau suka mengampuni maka ampunilah aku”. (H.R. Turmuzi, An Nasai dan Ibnu Majah)
3. Di dalam Al Azkar An Nawawi, sehubungan dengan doa itu, disebutkan dalam halaman 156 sebagai berikut:
“Berkata sahabat-sahabat kami Rahimakumullah: Disunatkan untuk memperbanyak membaca doa ini, dan disunatkan banyak membaca Al Quran, serta zikir dan doa-doa yang lain, yang dianjurkan di negeri-negeri yang mulia, dan telah terdahulu penjelasannya secara terhimpun dan terpisah-pisah.
Telah berkata Imam Syafi’ie Rahimakumullah: Disunatkan menurut pendapatku untuk bersungguh-sungguh beribadat pada siang harinya sebagai kesungguhan beribadat pada malam harinya, dan dinashkannya dalam hal ini: Disunatkan untuk memperbanyak di dalamnya berdoa untuk kemaslahatan kaum Muslimin, karena hal ini adalah perlambang orang-orang yang shalih dan orang-orang yang arif”.
4. Tidak benar sama sekali pendapat sebagian orang yang menyatakan bahwa setelah Shalat Tarawih dan Witir tidak ada lagi peribadatan malam Lailatul Qadar itu.
5. Sebaiknya menurut pendapat kami, pada malam Lailatul Qadar itu bila telah selesai Shalat Tarawih (boleh berwitir dan boleh pula tidak usah berwitir dahulu). Untuk melakukan peribadatan dengan shalat-shalat yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW dengan menyelang-nyelangi setiap sembahyang itu dengan bacaan-bacaan dan doa-doa yaitu:
6. Shalat khusus dengan niat SHALAT LAILATUL QADAR tidak ada diajarkan, jadi merupakan BID’AH.
Beberapa Bacaan/Amalan yang Baik Menyertai Shalat-Shalat yang Dilakukan
1 . Sesudah dua rakaat pembuka shalat Tahajud:
Allahumma yaa mayyaktafii ‘anhu ahadum min khalqihii, yaa ahaduman lala ahadalahu, inqatha’ arraja au illaa minka, wahaabatil aamalu illa diika, wa saddatiththuruqu illa ilaika. (yaa ghiyaatsul mustaghiitsiin, aghitsni 7x)
” Ya Allah, wahai yang mencukupi kepada segala makhlukNya, tiada ada yang dapat mencukupi seseorang dari makhlukNya, wahai Yang Esa, yang tidak ada bersifat Esa seperti Ia, telah putus segala harapan melainkan kepada-Mu, dan punahlah segala angan-angan melainkan dalam rahmatMu, terputus segala jalan, melainkan menuju jalanMu. (Wahai yang menolong orang-orang yang mengharapkan pertolongan, tolonglah daku, baca: 7 kali).
Allahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul afwa fa’fu aanni.
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Mulia, Engkau suka mengampuni maka ampunilah aku”. (H.R. Turmuzi, An Nasai dan Ibnu Majah)
dibaca sebanyak 10 (sepuluh) kali.
2. Sesudah Shalat Taubat
Setelah selesai mengerjakan Shalat Taubat hendaknya membaca istighfar sebagai berikut:
Astagfirullaahal adziim alladziila ilaa ha illa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaih
“Aku meminta ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan melainkan Dia, Ia yang Hidup Berdiri sendiriNya dan aku bertaubat kepadaNya”. (70x)
Allahum maghfirlii dzunuubi waliwa liday yaaa warhamhumaa kamaa rabbayaani shaghiira, walijami’il muslimiina wal muslimaat, al-akhyaa iminhum wal amwaat.
“Ya Allah, ampunilah segala dosaku dan dosa ibu-bapakku, kasihani kedua ibu-bapakku itu sebagaimana mereka mengasihani aku di waktu kecilku, serta dosa sekalian Muslimin dan Muslimat, yang hidup ataupun yang mati”. (70x)
Allaahumma anta rabbii, laa ilaaha illa anta khalaqtanii, wa anaa abduka, wa anaa alaa akhdika wa wa’dika mastatha’tu, a’uu zubikamin syarrima shana’tu, abu’ulakabi ni’matika alayya, wa abu’ubidzambii, faghfirlii, fainnahuu la yaghfirudzdzunuuba illaa anta.
“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan hanya Engkau, yang telah menjadikan diriku, sedang aku ini adalah hambaMu, dan aku berkewajiban selalu setia dan memenuhi janji kepadaMu dari kejahatan apa-apa yang aku perbuat. Aku merasa segan berhadapan kepadaMu mengingat nikmat yang Kau berikan dan aku malu berhadapan kepadaMu karena dosa-dosaku. Maka ampunilah dosa-dosaku, karena tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa hanya Engkau”. (Hadits Riwayat Bukhari)
3. Sesudah Shalat Hajat:
Bacalah sebanyak 313 (tiga ratus tiga belas) kali, atau 170 (seratus tujuh puluh) kali, atau 70 (tujuh puluh kali). (Hazinatul Asrar, halaman: 196).
Bismillaahirrahmaanirrahim
Alhamdulillahi washshalaatu wassalamu alaa Rasulillah, wa alaa aalihi washahbihi ajma’in.
Yaa Allah, ya hayyu yaa qayyuum, ya maliku, yaa qudduusu, yaa lathiifu, yaa qaahiru, yaa ‘aliimu, yaa muhiithu, yaa waasi’u, yaa hafidhu, yaa ‘aliyyu, yaa ‘azhiimu.
As aluka yaa Allah, yaa Rabbi, antuhyii qalbii waruuhii binuuri ma’rifatika wa mahabbatika, watuh yii jismii wa jawaarihii binuuri ibaadatika, wa luzuumi thaa’atika, wa dawaami khidmatika, wa antar zuqani husnal qiyaami bihaqqika, watamlau yadayya min thayyibi rizqika wa tasymaluni bikhafiyyi luth fika wa ra’fatika.
Washallallahu alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa alaa aalihi washahbihi ajma’iin walhamdulillahi Rabbil’aalaamin.
“Ya Allah, wahai Yang Hidup, yang berdiri sendiri, wahai Yang Merajai, wahai yang Suci, wahai Yang Baik, wahai Yang Mengerasi, wahai Yang Mengetahui, wahai Yang Meliputi wahai Yang Luas, wahai Yang Memelihara, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Maha Agung. Aku meminta kepadaMu Ya Allah, Ya Tuhanku, agar Engkau menghidupkan hatiku dan jiwaku dengan cahaya Ma’rifat kepadaMu dan kecintaan kepadaMu. Kiranya Kau hidupkan badanku dan segala tenagaku dengan cahaya peribadatan kepadaMu, senantiasa taat kepadaMu dan mengabdi padaMu.
Kiranya karunialah daku sebaik-baik penunaian terhadap hak-hakMu, Kau penuhi tanganku dengan sebaik-baik rezeki dariMu, Kau liputi daku kebagusan perbuatanMu yang tersembunyi dan kesertaanMu denganku.
4. Sesudah Shalat Tasbih
5. Shalat Witir
Subhaanal malikul qudduusi, Rabbul malaaikati warruhi.
“Maha Suci Allah, Maha Raja dan Maha Suci Tuhan segala Malaikat dan segala roh”.
Allaahumma innii a’uudzubika biridhaka amin sukhtika, wa a’uudzubi mu’afatika min uqqubatika, wa a’uudzubika minka, laa ahsha tsana-un alaika, anta kamaa atsnaita alaa nafsika.
“Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaanMu, aku berlindung dengan kemaafanMu daripada azab siksaanMu, aku berlindung kepada Engkau dari segala apa yang datang daripadaMu. Tiada batas pujiku kepadaMu, sebagaimana tiada batas segala pujiMu atas diriMu sendiri”.
*Sekian hasil copas dari buku beliau, semoga bermanfaat :D
Berikut ini merupakan pertanyaan pada sebuah ujian di Universitas Copenhagen, jurusan fisika :
Uraikan cara untuk menentukan tinggi dari sebuah gedung pencakar langit, dengan menggunakan barometer.
Seorang mahasiswa menjawab : ” Ikatkan saja seutas kawat ke leher barometer, lalu turunkan barometernya sampai ke tanah. Panjang kawat ditambah panjang barometer akan sama dengan tinggi bangunan itu.”
Jawaban jujur ini membuat para penguji berang. Dapat dipastikan, si mahasiswa akan gagal ujian seketika. Namun si mahasiswa protes, berkata bahwa jawabannya tidak salah. Kemudian, pihak Universitas menunjuk seorang penengah untuk memecahkan masalah ini.
Sang penengah tidak meragukan bahwa jawaban si mahasiswa benar, tetapi tidak mencerminkan pengetahuan tentang fisika sama sekali. Untuk menyelesaikan masalah ini, diputuskan untuk memanggil si mahasiswa dan memberinya kesempatan 6 menit untuk pembuktian lisan, yang setidaknya menunjukkan prinsip-prinsip dasar fisika.
Selama 5 menit, si mahasiswa hanya duduk bergeming. Dahinya berkerut, tampak berpikir. Sang penengah kemudian mengingatkan kalau waktu terus berjalan. Si mahasiswa menjawab, bahwa dia telah menemukan beberapa jawaban yang sungguh relevan, tapi belum bisa memutuskan mana yang mau dia kemukakan. Akhirnya, karena diburu-buru, si mahasiswa pun mulai menjawab seperti ini:
Well, maybe some of u ever feel it.
When U feel something that so hurtful,
But U just can’t cry.
Is it us who is stronger than before?
Sometimes I want to ask,
Am I supposed to feel hurt?
Or is it just me who make it feels hurt.
I don’t know.
I always believe in it.
But I don’t know if I believe in it,
Do I need to always feels something like this.
A feeling when u can’t cry when U really wanted to.
Bukan, bukan berarti memang aku yang merancangnya seperti itu.
Mungkin, tapi mungkin saja memang aku yang menyebabkan seperti itu.
REALISTIS HA!
Begitu batinku berkata saat itu.
Menyukai, jatuh cinta pada orang memang wajar.
Yang salah bila orang itu sudah ada yang punya.
Aku sudah muak pada semua balada, janji-janji pada diri bahwa akan menunggu sampai semua berbeda.
Sampai akhirnya dia sudah bukan miliknya lagi.
Aku hanya mencoba realistis. Untuk apa bertahan mengejar seseorang yang masih dimiliki yang lain?
Dan wajar bila akhirnya orang lain datang mengisi kekosongan diriku.
Sangat wajar bila aku mencoba jatuh cinta lagi, walaupun masih, ya aku masih mencintaimu saat itu.
Inikah yang memperbolehkan lelaki punya lebih dari satu istri? Oh entahlah.
Dan akhirnya kamu benar-benar kembali sendiri.
Sayangnya tidak semudah itu pula aku berbalik kembali.
Sekali lagi, aku mencoba realistis.
Dan akhirnya, ada orang lain lagi.
Mungkin Jauh lebih baik, mengisi hidupmu.
Dan kebodohanku, pada satu titik aku sadar aku masih mencintaimu.
Aku masih menginginkanmu, dan aku mencoba kembali.
Mungkin inilah kesalahannya.
Mungkin inilah yang tidak seharusnya kulakukan.
Waktu sudah mengubah hatinya.
Keberadaanku sudah tidak lagi mengisi hatinya.
Pada akhirnya mungkin keadaan lah yang ingin kupersalahkan.
Keadaan yang dulu tidak membiarkanku mengatakan yang sebenarnya.
Dan Waktu yang terus berjalan.
Namun tidak, bukan mereka sajalah yang bersalah.
Pada akhirnya, itu semua karena semua kerealistisanku.
Andai aku menunggu, mungkinkah aku yang benar-benar bisa memilikinya?
Tidak ada yang pasti, namun semua ini menjadi pertanyaan.
Seberapa kuatkah sebuah mimpi bila dipertahankan?
Dan hidup pun masih terus memberiku pelajaran.
Kalo mahasiswa sakit hati kalo dosennya nggak dateng, dosen juga sakit hati kalo mahasiswanya suka bolos.
Kalo mahasiswa dongkol dosennya dateng telat, dosen juga dongkol kalo mahasiswanya dateng telat.
Kalo mahasiswa ngomel karena diusir karena telat, dosen juga bisa ngomel kalau udah…